Naked Marriage

Naked Marriage. Pernikahan telanjang. Menurut anda, apa yang dapat anda bayangkan dari 2 buah kata tersebut?

Nope, not this one.. :-)

Jangan pikir yang aneh-aneh dulu. Saat ini hal ini sedang populer di daratan cina dan menjadi topik perdebatan yang hangat.

Bayangkanlah ketika kamu berpacaran. Umurmu sudah bertambah tua dan memang sudah waktunya untuk menikah. Cowomu, lalu berkata seperti ini:

“Eh, aku disuruh bikin sertifikat nikah sama orang tuaku, kamu mau ga nikah ama aku?”.

Menurutmu gimana reaksi kamu? Sedih marah? Terlebih lagi ternyata cowomu itu ga bawa apa-apa. Dia ga beli cincin kawin, ga berniat mengadakan pesta pernikahan, ga punya rumah/apartemen, ga punya mobil pribadi, ga pergi bulan madu, dan lain sebagainya. Dia hanya membawa kamu ke tempat catatan sipil, membayar 9 RMB (sekitar Rp. 12.000,-) yang dibagi rata 4.5 RMB per orang, dan ya, kalian resmi menikah menjadi pasangan suami istri.

Itu yang disebut dengan Naked Marriage, atau Luo Hun.

Luo Hun ini terjadi karena resesi perekonomian dan krisis ekonomi global 2008 yang juga diderita oleh negara panda ini. Krisis ini menyebabkan para pekerja mendapatkan gaji yang tidak sesuai dengan tingkat inflasi yang ada, sehingga setiap tahunnya gaji yang didapat kenaikannya tidak sesuai dengan kenaikan harga barang. Kalau di Indonesia pasti para pekerja uda demo protes minta naik upah minimal, tapi lain ceritanya di Cina ini. Mereka tetap bekerja dan tetap mencintai negaranya. Pada akhirnya, dampak perekonomian ini membuat banyak kalangan muda-mudi yang sudah waktunya menikah tidak mempunyai uang bahkan hanya untuk membeli apartemen (di Cina tidak diperbolehkan memiliki rumah, hanya boleh membeli/menyewa apartemen, harga jual apartemen saat ini kurang lebih 20.000 RMB, atau sekitar RP 260.000.000,-) sehingga munculah istilah itu.

Menurut mereka, pernikahan telanjang ini menjadi opsi yang patut dipertimbangkan, karena mengingat uang yang mereka pakai untuk mengadakan pesta dan bulan madu dapat mereka gunakan untuk hal-hal lain yang lebih penting, seperti menabung untuk membeli rumah dan merencanakan masa depan mereka.

Masalah lalu kemudian timbul dari hal ini. Tidak semua wanita bermimpi akan menikah dengan hanya membayar 4.5 RMB. Orang tua dari kedua belah pihak juga mungkin akan mempermasalahkan hal ini, bahwa pasangan hidupmu adalah seseorang yang tidak mapan, dan tidak mampu menghidupi keluarga.

Istilah baru kemudian muncul, yaitu Half-naked Marriage, dimana pernikahan tidak sepenuhnya telanjang. Setidaknya ada beberapa faktor di atas seperti cincin pernikahan ada dalam pernikahan. Walaupun demikian, tidak semua orang setuju untuk melakukan pernikahan seperti ini.

Bagaimana menurut anda? Apakah pernikahan yang benar-benar berdasarkan cinta tanpa harta dapat bertumbuh? Janji Cinta sejati seorang wanita untuk mengikuti pria dalam suka maupun duka, dalam senang maupun susah benar-benar diuji dalam pernikahan seperti ini.

Sumber:

  1.  http://schott.blogs.nytimes.com/2010/02/24/luo-hun/
  2. http://www.chinadaily.com.cn/china/2010-02/03/content_9418260.htm
Iklan

3 thoughts on “Naked Marriage

  1. Wow. Saya baru tahu lho perihal pernikahan telanjang ini. 😮
    Juga, saya baru tahu bahwa di Tiongkok ternyata inflasi tinggi. Dan saya memang heran karena jarang sekali warga Tiongkok demo minta dinaikkan upahnya. Paling hanya demo kebebasan berpendapat dan demokrasi. 😀 Ternyata di balik gemerlapnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok ada sisi gelapnya ya. 😐

    Menurut saya, gimana kalo begini. Orang Tiongkok itu… beragama apa nggak ya? Maap, saya gak tahu. :mrgreen: Saya mikirnya karena Tiongkok itu negara komunis, jadi warganya kebanyakan tidak beragama, mungkin hanya menganut beberapa kepercayaan saja (dan saya tidak tahu jenis kepercayaannya).
    Nah, silakan dibandingkan dengan di Indonesia, mayoritas penduduk beragama. Banyak saya dengar kisah2 di sini, entah itu kisah2 orang sukses atau bahkan kisah2 saudara dan kerabat saya, yang menikah ketika masih amat muda dan belum bekerja. Mereka yakin, bahwa dengan menikah rezeki akan datang. Tentu tidak datang dengan sendirinya, tetap harus berusaha. 😀 Hasilnya? Dengan bersabar, berusaha, dan terus berdoa, akhirnya mereka sukses juga sekarang, rejeki yang datang ke mereka, bukan mereka yang mencari rejeki.

    Jadi, barangkali pola pikir saja yang berbeda. 🙂 Memang tak bisa dipungkiri nikah itu butuh duit. Gak mungkin gak butuh duit, untuk menghidupi istri dan anak nanti pakai apa? Belum tentu semua wanita mau diajak mengencangkan ikat pinggang. :mrgreen: Belum lagi pendidikan anak, dan investasi untuk hari tua. 😀

    Tentu praktek naked-marriage ini saya rasa agak sulit diterapkan di Indonesia. 😆 Calon mertua kemungkinan besar bilang, “kamu punya apa mau nikahi putri saya??” Syukur2 kalau calon mertua tajir dan baik, mau membiayai pernikahan dan kehidupan kedua mempelai beberapa tahun ke depan. Lagipula, saya rasa keadaan Indonesia belum sampai seperti Cina lah…

    Eh, saya belum menjawab pertanyaan yang terakhir ya? Saya sih yakin aja, bahwa pernikahan atas dasar cinta tanpa harta bisa bertumbuh. Kalau memang keadaan sudah semakin sulit, masa’ mau gak nikah? 😆

  2. Memang di sini negara kan masih ada unsur komunis, bukan demokrasi kaya di indonesia, jadi ya rakyatnya juga ga bisa demo. Banyak kok aturan yang mengikat rakyat seperti rakyat ga boleh punya hak milik atas tanah (cuma boleh beli/sewa apartemen), anak batas maksimal 1 orang kalo tinggal di kota (anak ke 2 dst ga dapat tunjangan pemerintah dalam hal pendidikan, kesehatan, dll, yang emang jadinya mahal banget buat punya anak ke2).
    Juga benar tebakanmu itu, hehe.. di sini bekas negara komunis murni, sebagian besar rakyatnya ga ada agama, namun sebagian lainnya beragama Budha. Mereka cendrung lebih (maaf) money oriented (yang aku liat selama di sini ya, aku tau ga semua kaya gitu sih, ga enak ngomonginnya :P) dan emang seperti yang aku tulis di atas. Luo hun ini bakal masuk akal kalo emang gaji orang pada umumnya sangat kecil dan uang membutuhkan usaha yang begitu besar untuk didapat. Lebih baik daripada digunakan untuk pesta dan bulan madu uang tersebut digunakan untuk investasi ke depannya. Memang beda banget ya sama Indonesia. DI sini juga mertua-mertua banyak yang ga setuju kok kalau aku baca baca ceritanya. 🙂
    Yup, semoga aja di Indonesia ga bakal terjadi hal sampe seperti ini. Hahaha…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s