Dignity

Cerita ini hanya fiksi belaka yang iseng-iseng saya buat, mengisi waktu padat tugas saya.. hehe…

***

Dignity

“Hei, kamu!”

Sang dosen itu menunjuk kepada diriku.

“Kenapa, bu?”

“Kamu tahu tidak arti kata dignity?”

“Harga diri, bu..”

“Ya, benar sekali. Saya sedih sekali.. kalian di kelas ini memang tidak punya harga diri ya?” kata dosen itu tiba-tiba..

Saya sebagai mahasiswa otomatis bingung tiba-tiba dibilang tidak punya harga diri oleh seorang dosen itu.

“Ya, kalian memang tidak punya harga diri ya. Bikin paper saja setengah hati. Mengarang seenak kalian. Yang penting jadi, dan dikumpulkan tepat waktu. Bahkan saya baca ada beberapa yang plagiat.”

Saya menjadi tambah bingung. Memang separah itu ya karya tulis kami sehingga Ibu Dosen itu sampai sebegitu geramnya dengan kami?

“Memang lu bikinnya gimana si?” tanyaku ke teman sebelahku.

“Biasa aja kali. Ya, emang standar mahasiswa lah. Kaga gimana-gimana juga” jawabnya.

“Kalian ini ya” lanjut sang dosen, “Harusnya malu membuat sebuah karya tulis seperti ini. Mana ada kualitasnya? Jujurnya, saya sangat kecewa dengan karya kalian yang hanya sebatas itu. Anak TK saja bisa membuat karya yang lebih baik.”

‘Anak TK kan belum bisa nulis, bu’  kata saya dalam hati.

“Saya sudah menyuruh kalian menjelaskan arti dari akuntansi. Masa begitu saja tidak bisa?”

Arti itu sebenarnya sudah dijelaskan oleh teman kami, mengambil referensi dari buku tebal cetakan luar negri, yang ditulis oleh seorang professor, namun seakan-akan tidak mendengar jawaban dari siswa tersebut, dosen itu kembali menanyakan hal yang sama berulang-ulang seakan-akan ingin jawaban yang berbeda dari buku tersebut.

“Bu, kan maksudnya akuntansi itu ini” mohon dari anak yang menjawab tadi.

“Ya, saya juga tahu, tapi tidak hanya itu saja kan? Pokoknya kalian memalukan kelas ini. Seumur saya mengajar, baru kali ini saya mendapat kelas sebegitu parahnya. Bahkan sepertinya saya bakalan menembuskan batas standar nilai terendah saya yang D ini menjadi E. Kalau saya lihat kualitas paper kalian si saya melihat sudah ada beberapa orang yang seperti itu. ”

Dalam hati saya semakin merajuk. Bukannya tugas dosen itu menyemangati muridnya? Bukankah tugas dosen itu mengajar mahasiswanya agar mengerti? Bukannya tugas dosen itu membimbing dan membantu muridnya sehingga sukses?

Caci maki dan keluhan terus keluar dari mulut Ibu dosen tersebut, hingga akhirnya waktu pelajaran yang terasa sangat lama itu berakhir. Akhirnya, bebas..

***

Kurang lebih beberapa hari kemudian, saya sedang bertamu di rumah paman saya.

“Hei, ngomong-ngomong, kamu kenal Ibu A Mei tidak?”

Seperti biasanya pembicaraan dengan sanak family yang memiliki latar belakang universitas yang sama, pasti ada pertanyaan seperti itu.

“Oh, iya. Kenal. Ibu Mei-mei kan? Dia mengajar saya di pelajaran Akuntansi Pak.” jawab saya.

Tentu saja saya kenal, Ibu Mei-Mei ini lah yang menanyakan arti kata Dignity seminggu lalu.

“Oh, dia jadi dosen? Hebat juga”

“Memang kenapa, Pak?” tanya saya iseng-iseng.

“Ya, dia dulu pernah pindah universitas. Dahulu kalau tidak salah sempat mengundurkan diri dari universitas pertamanya karena ketahuan plagiat pada karya tulis yang dia publikasikan.”

“Serius Pak?” jawabku.

” Ya, hebat juga ya dia. Salut saya dia bisa jadi dosen”

Kemudian saya berpikir, ternyata alasan marah Bu Mei-Mei ini memang ada. Sepertinya dia geram karena ada mahasiswanya yang plagiat. Mungkin dia teringat dengan masa lalunya. Mungkin metodenya yang berbeda saja cara menegur seseorang.

Entah kenapa, dari saat itu muncul dua perasaan yang bertentangan dari diri saya. Saya menjadi respect terhadap Bu Mei-Mei, dan juga kecewa dengan beliau karena tidak dapat mengendalikan emosi dan menuduh serta merusak suasana dalam kelas. Sedih saja kalau melihat ada mahasiswa yang semangat belajarnya hilang walaupun dia sudah bekerja keras membuat paper sebagus mungkin dan dituduh plagiat.

Morale of the story? Being a teacher is hard, because YOU are the example for your students.

Iklan

It’s not my fault

Di tahun baru ini saya baru saja menyadari budaya yang ternyata sudah membusuk di Indonesia ini.. Ok, jangan Indonesia deh, terlalu luas cangkupannya. Saya batasi dengan lingkungan di sekitar saya. Sedih sekali melihatnya, dan entah kenapa setiap kali saya mendengar kalimat itu, saya mendadak jadi kesal tujuh keliling dibuatnya.

“Oh, itu bukan salah saya kok. Saya cuma disuruh oleh si A. Saya si tidak tahu menahu soal itu”

Sedih sekali mendengar hal itu.. Masalahnya saya tahu bahwa dia memang melakukan kesalahan itu, dia tidak disuruh oleh A (hanya meminta ijin dari A), dan  dia tahu benar soal itu.

Kadang-kadang saya kecewa dengan budaya itu. Saya pernah sekali waktu mendengar budaya ABS (Asal Bapak Senang) dan memang budaya tersebut masih ada sampai sekarang di Indonesia, tidak swasta, tidak negri. Hal ini ternyata mirip dan menambah lagi alasan kenapa saya sedih dengan Indonesia.

Terkadang saya iri dengan negara-negara maju seperti Jepang dan negara-negara di Eropa.  Mereka tidak mencari-cari alasan apabila mereka melakukan kesalahan.

“Maaf, saya terlambat.”

Itu saja yang keluar dari mulut mereka. Cobalah lihat orang Indonesia:

“Aduh, sori, tadi ban mobil saya bocor. Saya sudah mencari-cari ke mana-mana tapi tidak ada orang yang mau membantu saya. Apalagi tadi pagi saya merasa tidak enak badan, tapi saya paksakan masuk. Jangan potong gaji saya ya..”

Ada saja alasan yang keluar dari mulut kita.. Memang itu budaya kita sih ya. Kenapa kita tidak simpel saja apabila melakukan kesalahan dan sekedar meminta maaf dan tidak mencari-cari kesalahan? Apabila kita memang bersalah, maka akuilah kesalahan itu dan meminta maaf kepada pihak yang dirugikan. Sebuah kata maaf dapat melakukan apa yang seribu alasan tidak dapat lakukan.